Pemprov Stop Beri Insentif PEMKOT Perjuangkan Nasib 84 Guru TK

Diposting : 13 Mar 2017 | 01:25:59 WITA Kategori : Berita Lainnya

– Walikota Gorontalo Marten A Taha paham betul, bagiaman profesi menjadi seorang guru. Terlebih sebagai guru di taman kanak-kanak (TK) yang harus berhadapan dengan puluhan hingga ratusan anak didik masih berusuai rata-rata 4 sampai 5 tahun. Apalagi profesi ini pernah ia rasakan, meski hanya dilakoninya melalui program Walikota Mengajar. Inilah yang menjadi salah satu pendorong untuk Marten, memperjuangkan nasib 84 guru TK di Kota Gorontalo, sampai dengan saat ini tidak lagi menerima insentif dari Pemerintah Provinsi Gorontalo. Pasca pengalihan tanggungjawab terhadap SMA sederajat, dari Pemerintah Kota ke Pemerintah Provinsi Gorontalo.

Berkaitan dengan hal itu Marten akui, ada beberapa kendala yang dihadapi Pemerintah Kota Gorontalo, salah satunya tidak ada alokasi anggaran di APBD Kota Gorontalo untuk insentif guru TK. Karena penetapan anggaran APBD Kota Gorontalo, dilakukan sebelum pengalihan tanggungjawab SMA sederajat, oleh Pemerintah Kota ke Pemerintah Provinsi Gorontalo. Namun meski demikian persoalan itu telah ia bahas bersama dengan Dinas Pendidikan (Diknas) Kota Gorontalo, Sekretaris Daerah (Sekda) dan Badan Keuangan Daerah (BKD) Kota Gorontalo. Untuk mencari solusi, agar 84 guru TK tersebut bisa beaktifitas seperti biasa dengan menerima insentif dari Pemerintah Kota Gorontalo.
“Ini adalah tanggungjawab, dan Pemeirintah Kota tidak boleh tidak melaksanakan tanggungjawab itu,” ujar Marten.

Nah, berbicara soal guru, kata Marten tidak mudah menjalani aktivitas mereka. Mulai dari mempersiapkan ragam bahan ajaran, yang harus diberikan pada siswa yang duduk di kelas yang berbeda-beda. Sampai memberikan pendidikan moral dan akhlak terhadap siswa, agar menjadi generasi yang berkualitass. “Jika saya tidak jadi Walikota, mungkin saat ini profesi saya selain sebagai pengusaha, adalah sebagai guru. Dan ada Empat komptensi yang harus dimiliki guru diantaranya, kompetensi padegogik, sosial, kepribadian dan intelektual,” tutur Marten.(sumber RADAR)