Jl. H. Nani Wartabone No. 4, Gorontalo
(0435) 821012
(0435) 830412

Dikes Lampaui Target Nasional

Dikes Lampaui Target Nasional
  • Kamis, 10 Januari 2019 pukul 14:48
  • Grisselda Rafael Gobel

Angka kematian ibu, bayi dan balita di Kota Gorontalo selang tahun 2018 menunjukkan penurunan disbanding tahun sebelumnya. Masalah gizi buruk pun demikian, tidak lebih dari 1 persen. Sejumlah program kesehatan yang digulirkan Pemerintah Kota Gorontalo mebuat indicator kesehatan kian membaik. Kepala Dinas Kesehatan Kota Gorontalo Nur Albar menjelaskan, pelayanan prima yang diikuti gencarnya edukasi kesehatan terhadap masyarakat menjadi kunci keberhasilan program kesehatan. Langkah cepat dari semua petugas di fasilitas layanan kesehatan (Fasyankes), baik puskesmas maupun rumah sakit juga turut berkontribusi. “Semua program berjalan lancar selama tahun 2018 kemarin. Kita berupaya maksimal menyelenggarakan pelayanan kesehatan dan berhasil mencapai target, “ujar Nur. Ada 9 indikator kesehatan yang berusaha dicapai Dinas Kesehatan Kota Gorontalo. Penurunan angka kematian ibu, bayi dan balita termasuk diantaranya. Hasil evaluasi menunjukkan, kasus kematian ibu di tahun 2018 terdapat 5 kasus dari jumlah 4.164 ibu yang melahirkan di tahun itu. Angka ini melampui target bila dikonversi dan disandingkan target yang dipatok dalam RPJMD untuk tahun 2018, yakni 120 kasus per 100.000 ibu melahirkan. Angka ini juga menurun bila dibandingkan tahun 2017, dimana terdapat 7 kasus kematian dari jumlah 3.909 ibu yang melahirkan. Sama halnya dengan itu, angka kematian bayi pun demikian. Tahun 2018 sebesar 6,4 per 1.000 kelahiran dari target 10 per 1000 kelahiran. Sedangkan angka kematian balita, terdapat 7,4 per 1.000 kelahiran dari target 12 per 1.000 kelahiran. Nur mengatakan, capaian berdasarkan RPJMD bisa dipenuhi, tetapi perubahan positif terkait kasus kematian ibu, bayi, dan balita harus diupayakan lebih diminalisir. Pendampingan terhadap kaum ibu perlu dimaksimalkan, termasuk kecepatan rujukan dari puskesmas sampai ke rumah sakit. Selain angka kematian ibu, bayi dan balita. Indicator lainnya yang menunjukka keberhasilanprogram kesehatan dapat diukur dari prevelensi gizi buruk. Persoalan gizi buruk di tahun 2018 hany sekitar 0,81 persen. Survey yang digelar dengan 483 sampling, hanya ditemukan 4 kasus di tahun 2018. Indicator selanjutnya yakni prosentase penduduk yang mndapatkan jaminan kesehatan. Sejauh ini cakupan jaminan kesehatan di Kota Gorontalo sudah mencapai 97,8 persen. Bahkan Kota Gorontalo meraih penghargaan Universal Health Coverage (UHC) JKN-KIS dari pihak BPJS. Untuk indicator penguatan mutu dan pelayanan kesehatan, pada tahun 2018 kemarin, rata-rata puskesmas juga sudah diakreditasi. Sementara itu, terkait penanggulangan kasus penyakit menular, hingga tahun 2018 sudah ditemukan 603 kasus TBC baru, 8 kasus HIV dan 8 kasus AIDS. Temuan itu akan memberi kemudahan bagi petugas kesehatan untuk mengambil langkah pengobatan dan edukasi sehingga kedepan diharapkan kasus-kasus demikian bisa di eliminasi dari Kota Gorontalo. Nur menyampaikan pada tahun 2019 ini, beberapa hal yang akan dilakukan pihaknya sebagai berkelanjutan program antara lain peningkatan sarana-prasana kesehatan, peningkatan kapasitas aparatur serta menggencarkan program promosi kesehatan. Selain itu upaya memperkuat standarisasi pelayanan, perbaikan gizi dan optialisasi pengggulangan dan pencegahan penyakit menular juga menjadi prioritas. “Program-program ini akan kita laksanakan di tahun ini dan tentunya butuh dukungan dan kerjasama semua pihak. Pastinya kita berharap, semakin kedepan, kualitas kesehatan masyarakat Kota Gorontalo akan lebih baik lagi, “ujarnya.(Rakyat Gorontalo)

Profil Kepala Daerah
Statistik Pengunjung

344 Hari ini

595 Kemarin

3483 Minggu ini

51483 Bulan ini

442643 Total

Polling

Menurut anda, apakah website ini sudah baik dalam penyampaian data dan informasi?

Tautan